Selasa, 21 Februari 2017

Tafsir Kebudayaan Tidore




Sultan Tidore ke-37, yang mulia H. Husain Syah

Tulisan ini materi Orasi Kebudayaan dalam kegiatan “Ziarah Kebudayaan untuk  Menafsirkan Jatidiri Kebudayaan Tidore”, diselenggarakan oleh mahasiswa Tidore yang kuliah di Yogyakarta dan Makasar, 25 Agustus 2012, di Pendopo Budaya, Tidore.
 
 Sebagai prawacana saya mengutip kalimat Ignas Kleden,1 “Manusia tak bisa membebaskan diri dari sejarahnya, tetapi sejarah pun tidak dapat membebaskan diri dari manusia yang menggerakkannya” 
 Sejarah dan kebudayaan manusia ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya saling memberi nilai.
 Sejarah harum suatu bangsa selalu merupakan cerita dan catatan kebudayaan manusianya yang unggul. Kebudayaan yang unggul itu bila terdokumentasikan secara baik akan menjadi sejarah tentang warisan nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dari generasi ke generasi. 
 Bila sejarah diumpamakan dengan kanvas, manusialah yang mesti merumuskan ide kreatifnya, menyiapkan bahan dan alat, membuat sketsa, mewarnai untuk menjadikannya bermakna dan bernilai. Dengan begitu, manusia itu tidak saja telah meciptakan karya kebudayaan tetapi sekaligus juga turut menggerakkan sejarah. Sebaliknya bila kanvasnya dibiarkan teronggok kosong, dia bukan saja tidak mampu menggerakkan sejarah, tetapi dia pun tak bisa melepaskan diri dari kanvas kosong itu sebagai sejarah kediriannya, pibadi yang apatis, kering dari kreatifitas, kurang peduli dan bahkan bisa jadi sia-sia. Apalagi bila dia secara tak bijaksana merusak kanvas itu, maka secara tak pelak dia pantas disebut sebagai manusia “ahistoris”.
 Sejarah dan kebudayaan Tidore bukanlah sebuah kanvas kosong, melainkan telah menjadi karya indah dan menawan yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi hari ini.
 Tugas generasi hari merawatnya agar tak menjadi terabai dan rusak. Jikapun di dalam warisan itu terdapat kekurangan, generasi hari ini perlu menyempurnakan, mengubahsuaikan dengan konteks zaman agar menjadi lebih indah, harmoni, atau mentransformasikannya agar dapat menjadi inspirasi memecahkan masalah kekinian, sekaligus menjadi warisan yang lebih baik bagi generasi Tidore masa mendatang. Seperti nasihat Jery Del Tufo, yang dikutip Weisman (2009:46),2 “Tugas kita adalah menyerahkan warisan ini kepada generasi mendatang dalam keadaan lebih baik dari sewaktu kita menerimanya”.
 Dalam konteks itu, baiknya kita menghindari kekeliruan memandang dan memperlakukan sejarah, kebudayaan, adat dan tradisi Tidore sebagai suatu yang eksklusif, yang hanya tersimpan dalam ingatan segelintir manusia Tidore yang lantas diwariskan sebagai wasiat atau warisan. Dituturkan sebagai cerita pengantar tidur anak cucu dalam satu garis keturunan yang sama, sehingga akhirnya membuatnya sulit diakses oleh khalayak luas. Atau kadang bahkan menjadi polemik tanpa dasar atau syarat mistis, yang seringkali pula dicemari oleh kebiasaan saling klaim, saling menafikkan, atau “topo dada” seolah tong yang batul, tong yang lebe pantas, lebe tahu, dan seterusnya.
 Mendesak bagi kita, generasi Tidore kini untuk meninggalkan kebiasaan “topo dada” (tepuk dada), dan segera menggantinya dengan “paka testa” (tepuk jidat), artinya sungguh menginsyafi bahwasa pada masa lalu kita pernah besar, pernah berjaya, atau sekurang-kurangnya pernah menjadi komunitas suatu negara bangsa dengan tatanan masyarakat yang telah mencapai kesadaran spiritualitas-relijius, kosmologis dan humanitas tertentu, yang dapat disebut maju. Lalu bagaimana realitas hari ini?
 Bagaimanapun, sejarah kebudayaan bangsa-bangsa dunia yang disebut unggul dan mampu menegaskan keberadaannya sebagai bangsa berperadaban maju, sesungguhnya adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengolah dimensi spiritualitas-relijiusitasnya, kosmologitas dan humanitasnya secara seimbang dan harmoni.
 Dari sinilah pangkal gagasan dan pengetahuan yang melahirkan apa yang disebut oleh Kuntjaraningrat (2002:5)3 sebagi “Elemen kebudayaan”, yang setidaknya meliputi: (1). kompleks idea-idea, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dsb. (2). kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dalam masyarakat. (3). benda-benda hasil karya manusia; Oleh Tan Ta Sen (2010),4 mencakup sendi-sendi sopan santun, busana, bahasa, seni, ritual, norma-norma tingkah laku, agama, pangan, ideologi, pandangan dunia, filosofi kehidupan, mengolah dan memproduksi benda-benda. Yang merupakan rangkaian dinamika kehidupan yang meliputi varian kompleks dan spektrum yang luas dan dialektis melalui rentang proses yang diistilahkan oleh Giddens (1993)5 sebagai “nilai-nilai terberi”.
 Hemat saya, sampai konteks dan tataran tertentu Tidore yang pernah menjadi kerajaan atau kesultanan yang berdaulat dan secara formal eksis dari 1108 sampai 1945, telah mencapai atau setidaknya melalui proses tersebut. Dari proses itu, kita kini semestinya dapat menelisik dan menafsirkan identitas kebudayaan Tidore, baik itu identitas yang bersifat nilai-nilai atau norma maupun identitas simbolik.

TAFSIR KEBUDAYAAN TIDORE; SUATU INTRODUKSI
 Respek dan apresiasi patut kita berikan kepada pengagas kegiatan pada malam ini dengan tema yang menggugah; “Ziarah kebudayaan untuk menafsir jatidiri kebudayaan Tidore”.
 Dalam pemahaman saya yang awam tentang kebudayaan, jatidiri atau identitas kebudayaan itu coba saya pahami sebagai “sukma kebudayaan”; seperangkat nilai transendental, provetik, humanis yang telah dipadatkan dan diformulasi sedemikian rupa sehingga menjadi operasional bagi struktur kesultanan dan bagi tatanan sosialnya.
 Pada level makro, jatidiri kebudayaan Tidore terbingkai oleh kesadaran dimensi kosmis dan mikrokosmis; fisik dan metafisik yang harmoni. Salah satu perwujudannya ialah adanya konstruk Kepemimpinan “Kornono” (tidak kasat mata) dan Kepemimpinan “Sita-sita” (kasat mata, terang), dan keduanya memiliki struktur sampai ke tingkatan paling bawah.
 Masuknya Islam ke Tidore membawa konsekuensi perubahan dari kerajaan menjadi kesultanan, Kolano menjadi Sultan. Islam yang mudah diterima oleh kalangan istana dan masyarakat Tidore tanpa konflik atau ketegangan, menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan prinsipil dalam konteks nilai-nilai dasariah yang dianut dan menjadi landasan di kalangan pemimpin dan masyarakat Tidore.
 Nilai-nilai Islam hadir memperkuat kesadaran nilai yang telah ada sebelumnya. Jatidiri Kebudayaan Tidore kemudian berkembang menjadi kesadaran sipritulitas keberagamaan yang filosofis. Suatu perjumpaan damai antara nilai dari sistem kepercayaan tradisional dengan nilai-nilai Islam.
 Hal itu mewujud dalam praktik-praktik keberislman yang khas. Pemahaman falsafi dan praktik tradisi tertentu ditambahkan dalam ritual peribadatan. Tentu saja di luar prinsip tauhid dan rukun. Parktik yang merupakan konstruk pemahaman tradisional yang dimaksudkan lebih memperkuat tauhid dan keimanan, memperkaya khasanah syiar Islam, memperkokoh ukhuwah dan muamalah dalam Islam.
 Keberislaman yang hkas ini sampai-sampai memunculkan simpulan kalangan sejarahwan tertentu, bahwa, proses perjumpaan tersebut, bukanlah proses Islamisasi atas Tidore atau Ternate tetapi pada tataran tertentu justru terjadi sebaliknya, Tidoreisasi atau Ternatesasi atas Islam.
 Konsepsi Islam yang menempatkan manusia sebagai “khalifah fil ardh”, menjadi pemahaman dasariah yang mewarnai tata laku manusia. Ungkapan “Suba jou” yang menjadi salam sapa atau penghormatan antar masyarakat, adalah manifestasi dari kesadaran menghormati “Allah dalam diri manusia”; khalifah Allah yang mengemban misi memakmurkan alam semesta atau bumi.
 Kesadaran ini memebentuk karakter manusia Tidore masa lalu yang saling menghormati satu sama lain, sekaligus berarti menghormati manusia dan kemanusiaan itu sendiri, sebagai khalifah yang sama-sama mengemban tugas memakmurkan bumi, sehingga adab hubungan antar manusia, manusia dengan alam dan seisinya senantiasa dijaga agar harmoni.
 Dengan demikian, keberadaaban barangkali kata singkat yang relatif tepat menggambarkan jatidiri kebudayaan Tidore.
 Penggambaran jatidiri orang Tidore dapat kita lihat misalnya pada keteladan Sultan Al-Mansyur. Bangsa Spanyol dalam catatannya mengungkapkan, ketika kapal Spanyol, Victoria dan Trinidad pertama kalinya mendarat di Rum, di bawah pimpinan Sebastian Delcano. Di atas kapal itu terdapat sejumlah ekor babi. Mengetahuinya Al-Mansyur meminta Delcano memusnahkan seluruh babi karena hewan itu haram bagi Tidore yang muslim. Al-Mansyur menggantikannya dengan kambing dalam jumlah yang sama. Demikian juga Kaicil Rade yang kebijaksanaan dan kecerdasannya di akui oleh Antonio Galvao, Gubernur Portugis di Ternate yang juga karena kebijaksanaan sampai-sampai disebut Galvao yang baik. Teristimewa kebijaksanaan Sultan Nuku dalam peristiwa monumental revolusi damai Tidore, 12 April 1797.
 Dan, jatidiri kebudayaan Tidore yang paling komplit sekaligus paling konkrit dapat dilihat pada kebijaksanaan Sultan Saifuddin (1657-1674) yang pada 1663 bersama para bobato kesultanan menetapkan: Azas Pemerintahan; Azas Hubungan Sosial; dan Azas Perekonomian. 
 Rosyidi (2009),6 menguraikan: Azas Pemerintahan meliputi: (1). Jaga loa se banari (azas bertindak jujur dan adil). (2). Kie se kolano (azas kebersatuan pemimpin dan rakyat). (3). Adat se Nakodi (azas kemanusiaan yang beradab). (4). Atur se aturan (azas pelimpahan wewenang). (5). Fara se Filang (azas pembagian hasil yang diserahkan kepada pemerintahan Nyili). (6). Syah se Fakat (azas musyawarah mufakat); Azas Hubungan Sosial, meliputi: (1). Oli se nyemo-nyemo budi se bahasa (tatakrama dan kesopanan dalam bertutur kata). (2). Suba se paksaan (tatakrama bertingkah laku). (3). Ngaku se Rasai (Menjaga amanah dan kepecayaan). (4). Cing se cingari (Kebersahajaan dan kerendah-hatian). (5). Mae se kolofinoto tede suba te Jou Madubo (Rasa malu dan takut kepada Allah SWT); Sementara Azaz Perekonomian meliputi: (1). Satu ikat gaba-gaba (pelepah daun sagu): adalah 20 buah. (2). Satu ikat daun sagu (daun rumbia) adalah 30 bengkauan/lembar. (3). Satu meter2 kayu balok dengan panjang 3 meter adalah 33 potong.... dan seterusnya mengatur sampai pada jumlah dan takaran kebutuhan pangan dan papan lainnya.
 Yang dicanangkan oleh Sultan Syaifuddin pada 1663, adalah sebuah terobosan besar dalam konteks tatakelola pemerintahan yang baik. Beliau telah sangat cerdas dan bijaksana merumuskan azas-azas pemerintahan dan azas hubungan sosial yang sangat maju dan modern bukan saja pada zaman itu melainkan relevan hingga sekarang.  
 Dalam sebuah artikel di salah satu media Maluku Utara saya menyebut terobosan Sultan Syaifuddin ini sebagai “Bobato Governance", sebagai penegasan bahwa konsep Good Governance yang kita dewa-dewakan itu sebenarnya tema yang relatif usang di hadapan konsep yang dicetuskan oleh Sultan Sayifudin pada 1663. Artinya leluhur Tidore secara relatif lebih maju atau telah mempelopori gagasan ini, lebih dari 100 tahun, mendahului diskursus tentangnya di Eropa dan di Barat pada umumnya.
 Perkembangan kebudayaan Tidore yang sarat dengan prinsip dan nilai Islam, yang dapat disebut sebagai salah satu wujud jatidiri kebudayaan Tidore dapat dijumpai dalam Bobeto (sumpah adat) penobatan sultan:

Bismillahirrahmanirrahim
Ngofa ngona, ngofa laha-laha, ngofa jang-jang no tabili rahasia. No jau amanat, no jaga sareat se hakekat ... Jou no pantas turine toma tarpesa kolano, no koko toma Tarabul Muluk toma Kie Tidore matubu, no jau Kie se Kolano.
Soninga, soninga, soninga, jaga loa se banari. Sala ge no waje sala, banari ge no waje banari. Bolito si no lelo no isa toma banga, banga yo hou, haiwan toma banga ma ngam. No hu toma ngolo, ngolo yo hotu haiwan toma ngolo ma ngam.
Ngona sehat umur se salamat dunia sogado akherat, ngona ni ngofa se bala rakyat yo sehat sejahtera.
(Engkau putra terbaik, berakhlaq baik, engkau dapat menjaga rahasia. Kau pikul amanat, menjaga syariat dan hakikat.... Engkau pantas duduk di singgasana Sultan/Raja, tegak di atas kepemimpin di puncak Tidore, menggenggam wilayah dan kepemimpinannya.
Ingat, ingat, ingat, jagalah keadilan dan kebernaran. Yang salah katakan salah, yang benar katakan benar. Jika  engkau melenceng dari itu, engkau pergi ke hutan, hutan akan terbakar dan engkau menjadi santapan binatang buas. Engkau pergi ke laut, laut akan kering engkau menjadi santapan ikan besar.
Engkau sehat sepanjang usia dan selamat di dunia hingga akhirat, anak keturunanmu dan bala rakyat senantiasa sehat dan sejahtera).

 Kesultanan Tidore pun memiliki Peraturan Kie se Kolano 1868 Miladiyah. “Kedudukannya dapat disamakan dengan undang-undang dasar atau konstitusi di negara-negara modern”.7 Peraturan Kie se Kolano ini adalah Suatu konstitusi negara modern yang lebih tua 13 tahun dari konstitusi Turki Utsmani. Suatu pencapaian penting tidak saja di bidang hukum tata negara tetapi juga merupakan pengejawantahan perlindungan hak azasi masyarakat dalam arti luas.
 Salah satu sumber sejarah kebudayaan Tidore dan Moloku Kie Raha pada umumnya – sebagaimana umumnya sejarah lokal dan kebudayaan desa-desa di Indonesia – dapat juga ditelisik melalui Folklore yang masih banyak dijumpai dalam keseharian masyarakat:
 Terdapat Folklore lisan, meliputi: Folk Speech (logat/dialek, julukan, gelar, bahasa rahasia, isyarat, dst);  ungkapan tradisional (Dolabololo, pepatah dan sejenisnya); pertanyaan tradisional (Ciguri-ciguri, Sum-Sum dan sejenisnya); Puisi-puisi rakyat (Syair, Pameo, Bidal, dan sejenisnya); Folk Proses Narrative (Mite, Legenda dan Dongeng); dan nyanyian rakyat. Ada pula Folklore sebagian lisan, meliputi: kepercayaan dan tahayul, teater rakyat, tarian rakyat, permainan dan hiburan, upacara-upacara adat, upacara-upacara keagamaan; Folklore bukan lisan (yang materil dan bukan materil). Yang materil meliputi: arsitektur rakyat; hasil kerajinan tangan; obat-obatan tradisional; pakain adat serta perhiasan-perhiasan lainnya; makan-makanan adat/khas; peralatan dan senjata. Sementara yang bukan materil meliputi: gesture atau bahasa isyarat, dan musik.
 Selain itu terdapat pula sastra lisan seperti Tamsil, Dowaro atau Sililoa, dan Rorasa, juga sejumlah jenis sastra lisan lainnya, yakni; Dalil Tifa, Dalil Moro, Dolabololo, Kabata, Moro-moro, dan Saluma.
 Hampir keseluruhan bentuk sastra lisan Tidore dan Moloku Kie Raha umumnya, mengikuti pola pantun, dimana terdapat sampiran dan isi serta bentuknya yang singkat dan lengkap. Isinya merupakan kisah atau perbandingan kehidupan manusia yang diungkapkan melalui perlambangan dan metafora yang bersifat filosofis.
 Selain folklore tersebut, terdapat beberapa tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat, yaitu: Tradisi Koro/Gogoro (perkawinan, sunatan, cukur rambut, dina kematian, hajat tertentu lainnya); Tradisi Bari, Mayae, Marong (sejenis gotong royong dan bhakti sosial), dan Jojobo (urunan/arisan).
 Tantangan bagi kita kini, sebagai pewaris sah nilai kerafian Tidore, berikut sejarah besar masa lalu, problematika hari ini kemudian tantangan masa depan ialah, upaya merekontruksi cita-cita dan idealisme 1963 di atas.
 Baiknya kita perlu pula menyadari bahwa: Pertama, Tidore masa lalu adalah kebijaksanaan, kekuatan dan kebersamaan yang mampu menjaga kehormatan dan kejayaannya meskipun 4,5 abad dijajah, sementara Tidore hari ini, di tengah begitu banyak potensi sumber daya manusianya, tampak belum baik membina kebersamaan seutuhnya sehingga tertatih-tatih meretas persoalan-persoalan membangun masa depannya; Kedua, Tidore masa lalu adalah salah satu episentrum dalam percaturan global, tetapi Tidore hari ini demikian terpinggirkan hanya dalam persaingan antar daerah di Indonesia, bahkan dengan beberapa daerah di Maluku Utara barangkali. Kedua fenomena yang kontradiktif ini tegas menunjukkan betapa kita kini semakin menjauh dari “kebaikan-kebaikan masa lalu” yang merupakan keunggulan lokal (local genius), yang merupakan jati diri kebudayaan kita.

BERSATU MEMBINA OPTIMISME

 Beberapa sumber sejarah menyebutkan, Tidore sebagai salah satu pulau yang menjadi sumber ekslusif cengkeh yang mahal harganya, sehingga pulau ini telah dikenal dan menjadi bagian dari rantai perdagangan dunia.
 Gavin Mendiez (2007) menulis, Tidore dan Ternate adalah pusat rempah-rempah dan pulau yang produktif, menjadi legenda dan telah dicari berabad-abad karena rempah-rempah dapat diperoleh di kedua pulau ini dalam jumlah sangat besar.8
 Tan Ta Sen (2010) mengidentifikasi terdapat tiga jalur perdagangan kuno paling utama yang menjembatani Timur dengan Barat. Pertama, Jalur Sutra yang membentang dari Chang-an di Cina sampai Konstatinopel di Turki yang berlangsung sejak abad ke-2 SM. Kedua, Jalur Keramik di era Dinasti Tang dan Dinasti Song (618-1279) dari Guangzhou dan Quanzhou melewati Kepulauan Melayu dan berakhir di Teluk Persia. Ketiga Jalur Rempah-rempah sebagai arteri ketiga terpenting yang menghubungkan perdagangan dan komunikasi Timur-Barat selama lebih satu milenium. Jalur ini melintasi Samudera India dan saling terhubung dengan Jalur Keramik. Merentang 7.500 mil melintasi Timur Tengah, mengelilingi India, melewati selat Malaka ke Cina hingga kepulaun rempah-rempah di Indonesia. Jalur ini telah tumbuh sejak abad ke-2 SM, seusia dengan Jalur Sutera, yang menghubungkan beberapa bandar laut terkenal yang dikelola penduduk pribumi Melayu, pedagang Arab, India dan Cina. Jalur ini telah tumbuh sejak abad ke-2 SM, seusia dengan Jalur Sutera.
 Pada abad ke-8 sampai ke-10, sebagian besar perdagangan rempah dikuasi pedagang Muslim atau saudagar-saudagar dari Gujarat, dan rempah-rempah yang sangat dikenal Eropa pada masa itu adalah kayu manis, pala, cengkeh dan lada. Kayu manis asli berasal dari Ceylon, Cina dan Burma, Pala dari Kepulauan Banda, dan “Cengkeh hanya dapat ditemukan di dua pulau: Ternate dan Tidore di Maluku”.9
 Sejak kurun itu, Tidore (dan Ternate) menjadi kawasan terbuka dan merupakan bagian dari bandar Jalur Rempah (Spice Road) yang bersilangan dan bertautan dengan Jalur Sutra (silk road)10 yang ramai dikunjungi pedagang dari pelbagai bangsa. Bersamaan itu mulai terjadi pula kontak budaya antarbangsa yang menadai fase awal Archaik Globalization  atau Globalisasi Purba. (Yudi Latif, 2011).11 
 Di rentang jalur niaga dan persilangan budaya itu, Tidore mula-mula berinteraksi dengan bangsa Cina, Arab, Gujarat India, kemudian Melayu, Jawa dan Makassar. Namun demikian kontak budaya dengan bangsa Arab-Islam berhasil mencapai akulturasi dan asimilasi yang cepat dan berpengaruh luas.
 Singkatnya, sejarah Tidore tentu lebih panjang dari harijadinya ke-904 pada 12 April 2012. Sejarah Tidore bahkan sejak Sebelum Masehi telah digerakkan oleh manusia-manusia yang terbiasa berinteraksi dalam lingkungan pergaulan global, bukan manusia-manusia picik, pencuriga, apalagi minder.
 Kita bisa membayangkan pada saat itu, bagaimana para leluhur kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan pedagang mancanegara dan Melayu-Nusantara? Bagaimana mereka merumuskan kerjasama yang saling menguntungkan? 
 Mereka tentu memiliki kapaitas dan kepercayaan diri untuk melakukan itu. Kapasitas dan kepercayaan diri itu kian terbukti pada saat masuknya orang-orang Eropa; Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris, yang tidak mudah mengkooptasi apalagi mensubordinatkan Kesultanan Tidore.
 Memahaminya, kita kini memang tidak bisa mengelak, tengah mengalami suatu kondisi involusi budaya yang memiriskan. Mengalami apa yang disebutkan oleh Fritjoff Capra sebagai “titik balik”, bahwa “setelah mencapai puncak vitalitasnya, peradaban cenderung kehilangan tenaga budayanya lalu runtuh”.  Dan, keruntuhan budaya itu kata Toynbee, disebabkan oleh hilangnya elemen fleksbilitas kebudayaan, saat struktur sosial dan pola perilaku menjadi kaku maka masyarakat tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah. Peradabannya tidak mampu melanjutnya proses kreatif evolusi budayanya dan akan hancur.
 Tetapi jika kita mau belajar dan kembali menerapkan sikap istiqomah dan tawaduh terhadap jatidiri kebudayaan sebagaimana telah dicontohi pemimpin leluhur kita di masa lalu, kita pantas optimis untuk dapat bangkit, setidaknya lebih mudah dan lebih pasti melengkah kedepan, mencapai masa depan dan kesejahteraan.
 Kaitan itu, diskursus tentang revitalisasi, dan transformasi kebudayaan Tidore menjadi amat penting dan senatiasa relevan. Tantangannya ialah bagaimana kemauan kita yang sungguh-sungguh untuk membina gagasan kolektif yang dimulai dari kesediaan setiap orang menyadari pentingnya membangun ruang-ruang sosial di sekitarnya agar kondusif mewadahi gagasan dan kerja-kerja kebudayaan, yang bertujuan mendinamisasi ide dan gagasan transformatif, pembinaan kreatifitas dan daya cipta, serta reproduksi nilai. Seperti kata Basri Amin, “Setiap orang secara potensial adalah pencipta kebudayaan, dan dengan budaya itulah manusia bukan hanya bisa bertahan (survival) tapi ia sekaligus bisa bangkit kembali (revival)”.12

IKHTIAR MASA DEPAN

 Dalam bukunya “Konsekuensi-konsekuensi Modernitas” Anthony Giddens menulis, “Masa lalu ataupun masa depan bukan merupakan  fenomena yang saling berbeda... Masa lalu menyatu dengan praktik-praktik di masa kini, seperti cakrawala masa depan yang melengkung balik dan bersinggungan dengan yang sebelumnya telah berlalu”.13 Kalimat ini memiliki benang merah dengan kalimat Edmund Burke, bahwa Kehidupan adalah sebuah kontrak, bukan hanya dengan mereka yang masih hidup, tetapi juga yang sudah mati dan mereka yang akan lahir”.14
 Baik Burke ataupun Giddens menuntun kita untuk segera berpikir dan bertindak memperbaiki dan mengubah saat ini juga, dengan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan pengetahuan yang mengarahkan tindakan hari ini untuk membangun masa depan sebagai harapan, dan jika mungkin sebagai cita-cita luhur.
 Pemikiran Burke dan Giddens relevan dengan Ziauddin Sardar (2005). Sardar menulis, “Semua karya reformis [perubahan dan perbaikan], harus dimulai dengan mengakui, melihat dan memahami dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Hanya ketika kita menghargai dimensi sejati dari realitas kontemporer itu, kita bisa memikirkan reformasi [perubahan dan perbaikan] yang akan menciptakan dunia yang kita inginkan”.15
 Kita membutuhkan gerakan kebudayaan simultan dengan agenda-agenda yang fokus dan terarah, dan gerakan dimaksud sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan struktural, karena pendekatan struktural sejauh ini kurang efektif. Oleh karenanya gerakan kebudayaan berbasis pertisipasi masyarakat perlu digalakkan dan pemerintah daerah cukup memposisikan diri sebagai regulator, promotor dan fasilitatornya. 
 Kita juga tak kekurangan referensi apapun. Tradisi dan kearifan agung yang ditinggal oleh leluhur kita sangat banyak dan mumpuni. Itulah rujukan dan referensi agung kita.
Yudi Latif, dalam suatu tulisannya mengingatkan pula, sebagian dari kegagalan kita menjawab permasalah hari ini, adalah karena ketidakmampuan kita menghargai kebaikan dari masa lalu. 
 Selaras dengan yang dingatkan Sztompka16, tradisi adalah “cetak biru”, formula atau mode, umpama blok-blok bangunan yang telah disediakan leluhur supaya kita dengan mudah dapat mengikuti, mengisi dan membangunnya menjadi bangunan kebudayaan yang lebih kokoh dan indah.
 Hemat saya, beberapa agenda mendesak yang perlu segera dilakukan meliputi:

  1. Pemantapan kurikulum muatan lokal tentang jatidiri budaya dan kearifan lokal dengan sistem pembelajaran yang representatif. 
  2. Merevitalisasi kampung atau desa yang masih memiliki ciri tradisional yang kuat serta kampung-kampung dengan potensi kreatifitas dan produk tradisonal-khas, misalnya Ngosi dengan kondisi alaminya, Mare dengan kerajinan gerabahnya, Toloa dengan kerajinan pandai besinya, Jaya dengan sagunya, Kalaodi dan Fobaharu dengan anyamannya, dan kampung khas lainnya, kemudian menetapkannya sebagai kawasan konservasi sesuai ciri khasnya masing-masing. 
  3. Merevitalisasi fungsi dan peran kelembagaan informal dan formal daerah di semua tingkatannya agar dapat diandalkan menjaga, merawat, dan menjadi peneladanan bagi nilai-nilai dimaksud.  
  4. Mendorong penelitian, penulisan dan pendokumentasian produk budaya dan tradisi Tidore otentik untuk tujuan reotentikasi dan pemurnian pemahaman adat-tradisi dan sejarah yang pada saat ini cenderung versi-versian, dan secara relatif juga diwarnai saling-silang klaim.

 Mengakhiri orasi ini saya meminjam tesis Edmun Burke, “kehidupan adalah kontrak antara kita dengan mereka yang sudah mati (masa lalu), yang masih hidup (masa kini) dan yang akan lahir (masa depan). 
 Kita tentu tak ingin menjadi generasi yang dua kali berkhianat; kepada leluhur Tidore di masa lalu dan generasi Tidore di masa depan, karenanya kita akan berusaha membawa Tidore “Kembali ke masa depannya”.



___________
Catatan Kaki:

  1. Ignas Kleden, “Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Esai-Esai Sastra dan Budaya”, (2004:354) dikutip oleh Basri Amin dalam Gufran Ali Ibrahim, hlm. xiii.
  2. Alan Weisman, “Dunia Tanpa Manusia”, Terj. The World Without Us, (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009), hlm. 46.
  3. Koentjaraningrat, “Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan”, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 5.
  4. Tan Ta Sen, “Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara”, (Jakarta, Penerbit Buku KOMPAS, 2010), hlm. 7-8.
  5. Anthony Giddens, “New Rules of Sociological Method: A Positive Critique of Interpretative Sociologies”, (Stanford, Standford Univercity Press, 1993), hlm. 31. 
  6. Irham Rosyidi, “Sejarah Hukum Eksplorasi Nilai, Azas, dan Konsep dalam Dinamika Ketatanegraan Kesultanan Tidore”, (Universitas Negeri Malang, 2009), hlm. 119, 121-122. 
  7. Rosyidi, op.cit, hlm. 45
  8. Gavin Menzies, 1421 Saat Cina Menemukan Dunia, Ed Terjemahan Cetakan ke-3, (Jakarta,  Pustaka Alvabet, 2007), hlm. 175. 
  9. Tan Ta Sen, op.cit, hlm. 216-217; 
  10. R.Z. Leirissa, “Jalur Sutra: Integrasi Laut dan Darat dan Ternate sebagai Bandar di Jalur Sutra”, (Artikel, Jurnal Studi Indonesia, Pusat Studi Indonesia Universitas Terbuka, Jakarta, 1998 ),  hlm. 92-99. 
  11. Yudi Latif, “Negara Paripurna, Rasionalitas dan Historitas Pancasila”, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm. 132   
  12. Basri Amin, dalam  Gufran Ali Ibrahim, “Metamorfosa Sosial dan Kepunahan Bahasa”, (Ternate, Lembaga Penerbitan Universitas Khairun, 2009),  hlm. xii. 
  13. Anthony Giddens, “Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas”, (Sidoarjo, Kreasi Wacana, 2004), hlm. 138
  14. Edmund Burke; seorang negarawan Irlandia, penulis, ahli pidato (orator), teoritikus politik dan filsafat. Ia dipuji oleh kalangan konservatif dan kalangan liberal pada abad ke-19 dan abad ke-20 dan dikenal luas sebagai pelopor filosofis konservatif modern. 
  15. Ziauddin Sardar, “Kembali ke Masa Depan”, (Jakarta, Serambi, 2005), hlm. 117
  16. Piotr Sztompka, "Sosiologi Perubahan Sosial" (Jakarta, Prenada Media Group, 2007)



11 komentar:

  1. Wuih, lengkap sekali data-datanya, Bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Kyai, terima kasih, materi orasi jadi mesti diilmiah-ilmiahkan.. hahaha. Maaf saya belum sempat tunaikan hutang moril, mencari tahu siapa pria baik hati yang menemani kyai di Tidore, 2011 itu...

      Hapus
  2. Tulisan abang selalu ada pesan bijak. Mengajak kembali ke falsafah dan kearifan. Sungguh, saya baca hingga akhir tulisan. Syukur dofu, syukur dala-dala abang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur dofu-dofu, syukur dala-dala. Sekadar saling mengingafkan betapa banyak khasanah di jazirah kita ini yang bisa dan bahkan mesti diangkat, dikabarkan. Bersyukur torang tertaut dalam semangat itu.

      Hapus
  3. Suka banget pada bagian ini:

    "Bagaimanapun, sejarah kebudayaan bangsa-bangsa dunia yang disebut unggul dan mampu menegaskan keberadaannya sebagai bangsa berperadaban maju, sesungguhnya adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengolah dimensi spiritualitas-relijiusitasnya, kosmologitas dan humanitasnya secara seimbang dan harmoni"

    Iya, mari kita saling nasehat-menasehati dalam kesabaran...

    BalasHapus
  4. Insya Allah. Terima kasih Mbak Rosanna.

    BalasHapus



  5. https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk


    Salam


    Kepada:

     

    Redaksi, rektor dan para akademik


    Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan


    Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info

    Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 


    Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan


    BalasHapus